Tablet Harga Murah, Layar Setara Flagship? Inilah Kekuatan Infinix XPAD 20!

Daftar Isi

Tablet murah itu selalu identik dengan layar buram, performa pas-pasan, dan pengalaman yang bikin cepat kesal. Dulu saya bahkan lebih memilih membeli smartphone dibanding tablet murah karena rasanya “tanggung”. Layarnya besar, iya. Tapi setelah dipakai beberapa hari, mulai terasa komprominya di mana-mana.

Nyatanya, beberapa tahun terakhir pasar tablet berubah cukup drastis. Brand mulai sadar kalau pengguna sekarang bukan cuma mencari perangkat besar untuk nonton YouTube, tetapi juga perangkat yang nyaman dipakai kerja ringan, belajar online, editing sederhana, bahkan gaming santai. Di titik inilah Infinix XPAD 20 menarik perhatian saya.

Jujur aja nih, awalnya saya menganggap tablet ini cuma sekadar “tablet murah dengan spesifikasi yang dibesar-besarkan”. Namun setelah melihat detailnya lebih dalam, saya mulai paham kenapa banyak orang mulai melirik perangkat ini.

Yang paling mencolok tentu layarnya.

Tablet ini membawa panel IPS 11 inci dengan resolusi FHD+ 1920 x 1200 dan refresh rate 90Hz. Sepele? Tidak juga. Banyak tablet murah masih memakai layar HD biasa dengan refresh rate 60Hz. Perbedaannya langsung terasa saat scrolling media sosial, membaca artikel panjang, atau berpindah antar aplikasi. Gerakannya lebih halus. Mata juga terasa lebih nyaman.

Saya pribadi cukup sensitif dengan layar. Ketika refresh rate masih 60Hz, scrolling cepat sering terasa patah-patah kecil yang sebenarnya tidak terlalu terlihat, tetapi otak kita merasakannya. Setelah terbiasa dengan 90Hz, kembali ke 60Hz malah terasa aneh. Itu sebabnya saya cukup kaget ketika tablet harga terjangkau seperti XPAD 20 sudah berani membawa panel 90Hz.

Dan bukan cuma soal refresh rate. Resolusi Full HD+ di layar 11 inci membuat tampilan teks terlihat tajam. Ini penting untuk mahasiswa, pekerja kantoran, atau siapa pun yang sering membaca dokumen PDF dan mengetik. Banyak orang fokus pada chipset, padahal kualitas layar adalah bagian yang paling lama kita lihat setiap hari.

Lalu bagaimana dengan performanya?

MediaTek Helio G88 memang bukan chipset flagship. Saya rasa kita harus jujur di bagian ini. Tapi justru di situlah menariknya. Chipset ini terkenal cukup stabil untuk kelas menengah bawah. Dibangun dengan fabrikasi 12nm, performanya memang tidak dirancang untuk game berat setting ultra, tetapi sangat cukup untuk kebutuhan mayoritas pengguna.

Saya mencoba membayangkan skenario penggunaan paling umum: membuka banyak tab Chrome, Zoom meeting, YouTube berjalan sambil mencatat, sesekali edit Canva, dan bermain Mobile Legends. Untuk skenario seperti itu, Helio G88 masih sangat masuk akal.

Ditambah lagi, konfigurasi RAM 8GB dan penyimpanan 256GB membuat tablet ini terasa lebih “lega” dibanding banyak kompetitor di kelas harga serupa. RAM besar membantu multitasking lebih nyaman, sementara storage 256GB memberi ruang besar untuk file kuliah, video offline, atau aplikasi kerja.

Yang saya suka, Infinix tampaknya memahami satu hal penting: pengguna tablet sering menyimpan banyak file. Karena itu mereka masih menyediakan slot MicroSD. Hal kecil seperti ini justru mulai hilang di beberapa perangkat modern.

Kemudian ada fitur yang menurut saya cukup underrated, yaitu konektivitas 4G LTE Dual SIM. Banyak tablet murah masih bergantung penuh pada WiFi. Masalahnya, tidak semua orang selalu berada dekat hotspot atau router rumah.

Dengan dukungan SIM card, XPAD 20 terasa lebih fleksibel. Bisa dipakai di perjalanan, di warung kopi, di lokasi kerja lapangan, atau bahkan untuk driver online yang membutuhkan layar besar untuk navigasi dan komunikasi. Ini yang membuat tablet murah sekarang mulai terasa lebih relevan dibanding dulu.

Audio juga jadi bagian yang cukup menarik. Stereo speaker di tablet 11 inci jelas memberi pengalaman multimedia yang lebih hidup dibanding speaker mono biasa. Saat menonton film atau mendengarkan podcast, suara terasa lebih lebar. Memang bukan kualitas bioskop, tetapi untuk kelas harga terjangkau, hasilnya sudah lebih dari cukup.

Namun saya tidak ingin hanya membahas kelebihannya saja.

Ada beberapa kompromi yang tetap harus dipahami sebelum membeli tablet ini. Salah satu yang paling terasa adalah pengisian daya 10 Watt. Dengan baterai 7.000 mAh, proses charging tentu tidak bisa dibilang cepat. Kalau baterai benar-benar habis, pengguna mungkin perlu menunggu cukup lama hingga penuh.

Ini sebenarnya konsekuensi yang cukup umum di tablet murah. Brand biasanya lebih memilih menjaga harga tetap rendah dibanding menambahkan fast charging mahal. Jadi kalau Anda tipe pengguna yang sering lupa mengisi daya malam hari, bagian ini mungkin akan sedikit mengganggu.

Kameranya juga standar. Kamera belakang 8 MP dan depan 5 MP jelas bukan untuk fotografi serius. Tetapi saya rasa ekspektasi pengguna tablet memang berbeda dengan smartphone. Kamera di sini lebih berfungsi untuk video call, scan dokumen, atau meeting online. Dan untuk kebutuhan itu, spesifikasinya masih cukup aman.

Yang cukup menarik justru kehadiran Android 15 dan fitur AI milik Infinix bernama Volex. Sekarang hampir semua brand berlomba membawa fitur AI, tetapi sering kali implementasinya terasa gimmick. Saya berharap Infinix bisa menjaga fitur AI ini tetap ringan dan benar-benar membantu aktivitas harian, bukan sekadar tempelan marketing.

Selain itu, adanya sertifikasi IP52 juga memberi nilai tambah kecil yang sering diabaikan orang. Memang bukan tahan air total, tetapi setidaknya tablet ini memiliki perlindungan dasar terhadap debu dan cipratan air ringan. Untuk perangkat yang sering dipakai mobile, ini cukup penting.

Kalau saya harus menyimpulkan secara jujur, Infinix XPAD 20 terasa seperti tablet yang memahami kebutuhan pengguna biasa. Bukan tablet yang mencoba terlihat mewah di atas kertas, tetapi perangkat yang fokus memberikan pengalaman nyaman di hal-hal yang paling sering dipakai: layar bagus, baterai besar, storage lega, dan konektivitas lengkap.

Dan menurut saya, di tahun 2025 hingga 2026, itu justru lebih penting dibanding sekadar angka benchmark tinggi.

Kalau Anda sedang mencari tablet untuk belajar, kerja ringan, hiburan, atau perangkat kedua yang tidak menguras dompet, ada satu saran sederhana dari saya: jangan hanya melihat merek atau gengsi spesifikasi. Coba perhatikan bagian yang benar-benar akan Anda rasakan setiap hari. Layar, kenyamanan penggunaan, dan fleksibilitas koneksi sering kali jauh lebih menentukan dibanding performa ekstrem yang akhirnya jarang dipakai.

Posting Komentar