Baterai Tanam Akhirnya Mau Tamat? Gebrakan Dari Uni Eropa yang Harusnya Udah dari Dulu

Daftar Isi

Jujur waktu pertama baca berita ini gue sempet mikir, "ah paling cuma wacana lagi." Soalnya udah berapa kali kan ada regulasi digital-digital gitu dari Eropa yang kelihatannya keren di kertas tapi eksekusinya berantakan atau gak kemana-mana. Tapi kali ini kayaknya beneran.

Uni Eropa udah ketok palu. Mulai tahun 2027, semua HP yang dijual di sana wajib punya baterai yang bisa dicopot sama pengguna. Bukan dibawa ke tukang servis, bukan harus dibongkar sendiri pake heat gun sama obeng khusus. Maksudnya bisa dituker sendiri, gampang, kayak HP jadul dulu.

Ini bagian dari regulasi besar mereka soal hak untuk memperbaiki hak untuk memperbaiki barang sendiri. Eropa emang lebih agresif banget soal ini belakangan. Dari laptop, tablet, hingga HP, semua masuk daftar. Dan kalau vendornya mau jualan di sana, ya harus nurut.

Yang membuat saya geleng-geleng itu adalah reaksi komunitas teknologi Indonesia. Di beberapa forum dan grup WA (iya, masih ada yang diskusi serius di WA), ada yang bilang "ah paling Samsung sama Apple gak bakal nurut." Ada juga yang mengatakan "gak mungkin baterai copot lebih bagus dari yang ditanam."

Dua-duanya... ya mungkin aja sih, tapi gak tepat juga.

Samsung udah pernah bikin HP dengan baterai copot. S5, Note 3, dan masih banyak lagi sebelum era "premium tipis-tipisan" dimulai. Kinerjanya oke, gak ada yang pada protes soal kinerja. Masalahnya bukan bisa atau enggak, tapi karena tren desain yang bikin semua vendor berlomba bikin HP kayak kartu kredit bernyawa, akhirnya baterai tanam jadi standar industri yang semua orang terima begitu aja.

Apel? Nah ini yang menarik. Apple paling sering mendapat tekanan dari regulasi Eropa dan paling keras nolaknya. USB-C kemarin itu contoh paling nyata mereka nolak bertahun-tahun, ngotot sama Lightning, tapi akhirnya nurut juga. Jadi soal baterai copot, saya curiga Apple bakalan... cari celah dulu lah. Entah bagaimana caranya.

Kalau dipikir-pikir, baterai tanam itu sebenernya kerugian buat konsumen yang didesain biar terasa kayak keuntungan.

"Desainnya lebih premium, lebih tipis, lebih rapat, lebih tahan air."

Iya bener semua itu. Tapi konsekuensinya? HP yang umur baterainya habis, otomatis jadi sampah. Baterai ngelembung? Wah, ribet. Mau ganti sendiri? Siap-siap batalin garansi atau bayar servis resmi yang tarifnya kadang hampir sama kayak beli HP baru bekas.

Gue pernah ngalamin sendiri. HP lama gue baterainya ngelembung waktu umurnya baru 2 tahun. Tukang servis bilang harus bongkar total, ada risiko layar retak, dan biaya hampir 700 ribu. Padahal kalau baterainya bisa dicopot, tinggal beli baterai baru 150 ribu, kelar dalam 5 menit.

Saat itu saya mulai sebel sama desain baterai tanam.

Sekarang soal 2027 masih lumayan jauh. Tapi efeknya bakalan kerasa lebih cepat dari itu.

Vendor yang mau masuk pasar Eropa harus mulai desain ulang dari sekarang. Siklus pengembangan HP itu bisa 2–3 tahun sebelum produk jadi masuk pasaran. Artinya mereka harusnya sudah mulai mikirin ini dari kemarin. Atau mungkin emang udah, cuman belum diumumin ke publik.

Yang jadi pertanyaan buat kita yang di sini: apakah HP "versi Eropa" bakal beda sama yang dijual di Asia?

kemungkinan besar...iya. Kecuali vendor memutuskan satu desain universal yang menggunakan baterai standar copot untuk semua pasar. Jika hal itu terjadi, kita di Indonesia bisa kecipratan juga. Atau enggak. Tergantung apakah vendornya membuat dua lini produk berbeda.

Belum tentu kita kebagian.

Ada yang bilang ini bakal bikin HP jadi "jelek" lagi. Lebih tebal, lebih berat, sampul belakang yang mudah lepas kalau kena keringat.

Gue gak setuju seratus persen. Teknologi desain sudah jauh lebih maju dari era Nokia N95 yang back cover-nya bisa dibuka pake kuku. Kalau emang mau, bisa bikin HP dengan baterai copot tapi tetap terlihat dan kerasa premium. Masalah cuma satu: mau apa enggak?

Dan kalau regulasi yang maksimal, ya akhirnya mau juga.

Yang paling sering gue pikirin soal ini sebenernya bukan soal desain atau performa. Tapi soal sampah elektronik.

Indonesia itu salah satu negara dengan tingkat konsumsi HP yang tinggi. Dan gak banyak yang tau, baterai lithium dari HP bekas yang dibuang sembarangan itu bahayanya lumayan ngeri buat lingkungan. Itu bukan masalah yang diterima, meski jarang dibahas.

Kalau baterai bisa dituker sendiri, artinya HP bisa dipake lebih lama. Gak perlu beli baru cuma karena baterainya udah loyo di umur 2–3 tahun. Itu lumayan ngaruh ke jumlah HP yang dibuang tiap tahun.

Cuma ya, kurasa realistis. Di Indonesia, aturan Eropa tidak otomatis berlaku. Jika regulasinya tidak diadopsi secara lokal atau tidak ada tekanan dari konsumen lokal, ya kita masih akan menjual baterai HP tanam terus sampai entah kapan.

Paling tinggal nunggu aja sih.

Kalau vendor besar akhirnya bikin satu desain universal buat semua pasar, lumayan. Kalau tidak, ya nasib kita gak jauh beda sama sekarang beli HP, baterai loyo 2 tahun, galau antara servis mahal atau beli baru.

Tapi setidaknya ada yang mulai berbicara keras soal ini. Dan dari Eropa pula, yang paling galak adalah soal regulasi hak konsumen.

Kita liat aja 2027 beneran terjadi atau enggak

Posting Komentar